Wednesday, May 28, 2014

IMPROVE YOUR LANGUAGE SKILLS AND WIN THE FUTURE

Muhammad Fadhly Thahir

          Era globalisasi telah menjadikan perputaran roda kehidupan seakan semakin cepat. Persaingan menjadi begitu ketat dan cenderung keras. Dunia seakan sempit dengan padatnya rutinitas seiring inovasi di berbagai bidang yang terus melejit. Tak bisa dipungkiri bahwasanya kita telah hidup di era yang serba menuntut kecakapan dan kompetensi kita untuk bisa bersaing maju dan tetap bertahan di pusaran era globalisasi. Olehnya itu dituntut bagi kita semua selaku generasi penerus bangsa untuk terus meningkatkan kapasitas ilmu dan kompetensi kita sehingga mampu menjadi pilar-pilar perubahan bagi bangsa dan negara.
            Indonesia sebagai negara dengan potensi sumber daya alam yang kaya seharusnya diimbangi dengan kapasitas sumber daya manusia yang memiliki daya saing yang kompeten. Hal ini dikarenakan keseimbangan antara keduanya akan mampu menjadikan negara tersebut menjadi negara maju dan sejahtera. Menjadi sebuah hal yang miris ketika kekayaan sumber daya alam di sebuah negara melimpah sedangkan kompetensi sumber daya manusianya tidak mampu mengelola kekayaan itu. Walhasil yang terjadi kemudian adalah kekayaan alam itu harus direlakan untuk dikelola oleh pihak asing yang justru sebenarnya merugikan bagi pemilik kekayaan aslinya. Dimana kita ketahui bahwasanya kebijakan penanaman modal asing dan kontrak karya di negeri kita lebih banyak menguntungkan pihak asing. Devisa yang masuk ke negara sangatlah tidak seimbang dengan kekayaan alam yang dikeruk oleh pemilik modal dan investor asing. Miris.
            Satu hal yang pasti bahwasanya kemampuan kita untuk mengelola sumber daya alam itu menuntut kita untuk terus berpacu meningkatkan kapasitas dan skill. Salah satu cara untuk memudahkan itu semua adalah dengan memiliki kemampuan pengetahuan bahasa asing yang mumpuni. Hal ini dikarenakan dengan penguasaan bahasa asing yang tak hanya satu, kita mampu untuk mengetahui banyak ilmu baru yang selama ini boleh jadi hanya tersaji dalam bahasa asing. Selain itu dengan memiliki penguasaan bahasa asing yang baik maka kita mampu untuk melakukan komunikasi yang baik dengan para investor serta stakeholder dalam melakukan pembangunan berkelanjutan di negeri. Kita tidak sekedar menjadi bulan-bulanan pihak asing dikarenakan ketidakmampuan kita melakukan lobi dan negosiasi dengan baik bahkan cenderung kita ditipu karena kekurangpahaman kita dengan maksud bahasa mereka.
            Pengusaaan bahasa asing diluar bahasa ibu adalah sebuah hal mutlak yang harus kita upayakan untuk terealisasi jikalau kita ingin berkembang menjadi negara yang maju. Hal ini pula dibutuhkan guna menjaga eksistensi kita di dunia persaingan global yang semakin kompleks. Tidak bisa dipungkiri bahwasanya dengan kemampuan berkomunikasi verbal dengan bahasa asing,menandakan kita telah membuka pintu-pintu cakrawala baru yang boleh jadi selama ini belum terbuka. Dengan adanya kemajuan teknologi yang begitu pesat sekarang ini sudah menjadi sesuatu hal yang sangat mendukung bagi kita untuk mempelajari beragam bahasa di dunia. Penguasaan bahasa itu dititikberatkan pada bahasa yang menjadi bahasa internasional seperti bahasa Inggris, Arab, Perancis, Spanyol, dan beberapa bahasa dari bagian Asia Timur seperti Jepang, Korea dan China.
            Tahun 2015 adalah tahun berlakunya era pasar bebas ASEAN (AFTA). Itu berarti kurang lebih setengah tahun lagi dari sekarang kita akan memasuki era baru di kawasan ASEAN. Era dimana pertaruhan ketahanan dan kemampuan daya saing negeri dipertaruhkan selain daripada harga diri bangsa. Betapa tidak, dengan era pasar bebas itu berarti barang-barang impor dari negara tetangga semakin banyak dan beragam masuk membanjiri pasar lokal. Bila kita tidak mengimbanginya dengan sebanyak mungkin melakukan ekspor bisa jadi kita hanya menjadi penonton dan pesakitan. Dengan cakrawala berpikir yang semakin terbuka karena penguasaan bahasa asing yang semakin baik akan menjadikan kita memiliki daya tangkal yang baik dengan era pasar bebas yang segera akan menyambangi negeri. Kemampuan lobi dan negosiasi kita mampu menjadikan negeri ini mendapat devisa lebih dari ekspor impor karena kecakapan kita dalam berkomunikasi verbal dalam bahasa asing. Bukankah dalam praktik lobi antar negara itu kita tak memakai bahasa ibu masing-masing tapi menggunakan bahasa internasional seperti bahasa Inggris.
            Penguasaan bahasa asing warga negeri ini boleh dikatakan masih sangat minim. Itu bisa dilihat dari indeks atau piramida pendidikan warga negara kita. Penguasaan bahasa dan kecakapan dalam menguasai bahasa diluar bahasa ibu koheren dengan tingkat pendidikan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka tingkat penguasaan bahasanya juga lebih baik dibanding mereka yang berpendidikan rendah. Sudah seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah untuk terus menggenjot upaya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa bagi para pelajar dan mahasiswa negeri ini. Kurikulum yang ada seharusnya memberi porsi lebih bagi upaya peningkatan skill bahasa anak didik. Percuma jika mereka pintar di mata pelajaran eksak atau sosial namun tak mampu menularkan pengetahuannya itu kepada orang lain dengan kemampuan bahasa yang mumpuni. Hal ini semakin parah jika mereka tak mampu bersaing dengan orang-orang asing yang datang bekerja dan berinvestasi di dalam negeri saat mereka telah memasuki dunia kerja. Alangkah lucunya jika dalam seleksi penerimaan karyawan sebuah perusahaan pada akhirnya yang memegang peranan penting mayoritas dari luar negeri dibanding dari anak bangsa sendiri. Hal ini bisa diminimalisir atau malah dihilangkan salah satunya dengan jalan penguasaan bahasa asing yang semakin baik dari waktu ke waktu dari generasi penerus bangsa.
MAKNAWI KESUKSESAN SEJATI SELAKU INSAN VISIONER

Muhammad Fadhly Thahir

Saya selalu percaya bahwa kesuksesan hanya datang pada mereka yang bekerja keras dan pantang menyerah menjalani hidup untuk sebuah cita-cita agung yang telah ia ikrarkan. Telah banyak disekitar kita orang – orang menjadi contoh bahwasanya kesuksesan bukanlah semata karena warisan harta dari orang tua. Namun yang lebih penting adalah bagaimana mereka mampu mengelola setiap kesempatan yang ada dengan hal-hal kecil tapi memiliki nilai. Mereka mampu membatasi keterbatasan financial dengan kerja keras serta ketulusan dalam bekerja. Memanfaatkan setiap detik waktu dengan penuh tanggung jawab serta mampu melihat setiap tantangan menjadi peluang untuk menjadi lebih baik.
            Tidak ada yang tidak bisa bila kita ingin berusaha dan bekerja tak kenal lelah dan putus asa. Saat terjatuh kita mampu untuk bangkit kembali, merangkak dan berjalan. Bukankah banyak orang-orang yang telah sukses hari ini dulunya juga jatuh bangun dalam membangun bisnis, perusahaan, karir dan cita-cita. Hal ini juga berlaku dalam dunia pendidikan. Seorang pelajar takkan mampu menjadi orang sukses dikemudian hari jika tidak bersusah payah dalam belajar di masa muda. Banyak anak orang kaya tapi tak sukses dalam pendidikan sebaliknya banyak anak orang miskin tapi sukses karena mereka merasakan pahit getirnya perjuangan mendapat ilmu. Mereka mampu bertahan di luar zona nyaman.
            Bagi saya kesuksesan terbesar dalam hidup ini ketika saya mampu memberi banyak mamfaat kepada orang lain melalui keahlian yang saya miliki dan melalui ilmu yang saya miliki. Mampu memberi kontribusi dari yang terkecil hingga terbesar terhadap agama, bangsa dan negara adalah wujud kebermamfaatan yang hakiki. Percuma saja bila kita berilmu tinggi, mendapat gelar pendidikan yang berjubel namun masyarakat sama sekali tidak merasakan mamfaat dari tingginya ilmu kita. Jangankan negara dalam range besar boleh jadi tetangga kita saja tidak merasakan asas kebermamfaatan ilmu yang kita miliki. Alangkah meruginya kita jika sampai hal itu terjadi. Itu artinya kita menjadi orang yang egois. Hanya ingin enaknya sendiri dan tak peduli terhadap keadaan orang disekitar kita. Dalam agama kita mengenal istilah sholeh pribadi namun tidak sholeh sosial.
            Harapannya bahwa kita mampu menakar sejauh mana arti sukses dalam hidup ini dengan baik dan proporsional. Kesuksesan pada hakikatnya bukan hanya dinilai dari banyaknya harta dan aset pribadi yang kita miliki namun lebih dari itu arti sukses lebih kepada asas kebermamfaatan kita kepada sesama. Zoon politicon, kita adalah makhluk yang bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Kesuksessan terbesar bagi seorang anak adalah berbakti dengan baik kepada kedua orang tua. Kesuksesan seorang suami ketika mampu menjadi imam yang baik dalam rumah tangganya. Kesuksessan seorang pelajar ketika mampu berprestasi dalam mata pelajaran dan disiplin ilmunya. Kesuksesan seorang ulama ketika mampu menyadarkan banyak orang dengan tuntutan yang jelas untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Kesuksesasn seorang guru atau dosen ketika mampu melahirkan anak didik yang cerdas, berakhlak dan berprestasi yang mampu menajdi generasi handal dan unggul di masa depan. Kesuksesan seorang pemimpin atau presiden ketika mampu memberi teladan yang baik dan menjadikan yang dipimpinnya makmur dan sejahtera.

Friday, May 2, 2014

"SASTRA, BUDAYA DAN FILOSOSI NEGERI DALAM DIRI SEORANG KAPTEN"

Muhammad Fadhly Thahir

           Di ranah sepakbola ia cukup terkenal. Tak kalah dengan ketenaran Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Ia adalah Steven Gerrard. Kapten sekaligus ruh permainan Liverpool. Ia dijuluki kapten fantastis. Julukan itu cukuplah membuat kita membayangkan kemampuannya yang pastinya tak biasa. Steven Gerrard adalah pemain special dengan jiwa kepemimpinan tinggi. Bagi para penggemar Liverpool, Gerrard bak Dewa. Semua terpesona kepadanya. Namun sepertinya bukan hanya pendukung Liverpool yang mengakui kehebatannya. Banyak yang menaruh respek padanya.

         Sikap itu tidak aneh kalau melihat kiprah Gerrard di lapangan hijau. Ia memimpin dengan contoh dan hati. Tiap kali bermain, ia selalu turun dengan penuh totalitas. Meski berposisi asli sebagai gelandang (midfielder) ia juga sering turun membantu serangan seperti posisi defensive midfielder dan membantu penyerangan layaknya seorang attacking midfielder. Tak heran jika siapa pun pasti terpesona apalagi publik Inggris.

        Warga Inggris memang unik secara budaya. Mereka lebih menghargai usaha dibanding hasil. Hal itu juga hadir dalam sepakbola. Bagi mereka yang paling penting adalah totalitas di atas lapangan. Saking all out terkadang sikap mereka nyaris menjadi tidak rasional. Bila ditelisik lebih jauh semuanya ada korelasinya dengan karakter dan budaya orang Inggris. Irasionalitas masyarakat Inggris berawal dari ketertinggalan dalam pola pikir rasional. Dibandingkan negara lain di eropa seperti Italia dan Prancis, Inggris termasuk terbelakang.

        Ketertingglan Inggris tak lepas dari banyak faktor. Salah satunya keberadaan tokoh pemikir atau filsuf. Prancis memiliki filsuf kenamaan seperti Rene Descartes yang memengaruhi pola pikir masyarakatnya. Italia pun tak kalah jumlah soal pemikir rasional. Italia bahkan punya Noccolo Machiavelli yang terkenal sangat memperhitungkan apa pun. Hal ini pula yang menjadikan filosofi pelatih asal italia lebih mengutamakan taktik dibanding aspek lain dalam menerapkan pola permainan. Namun Inggris hampir tidak memilikinya.

         Irasionalitas masyarakat Inggris juga tergambar dari sejumlah literatur sastra populer dalam budaya Anglo Saxon. Sebutlah dua kisah Beowulf dan King Lacer. Dua cerita itu diakhiri dengan kematian tragis, namun warga Inggris sangat menyukainya. Kebiasaan itu diakui berbagai pihak. pelatih beken Arsenal, Arsene Wenger yang berasal dari Prancis menyadari akan hal itu saat ia hadir di tanah Britania. Saat itu ia berkata "disini, mungkin karena berada di kepulauan mereka berjuang lebih seperti pejuang yang bersemangat. Mereka memandang pertandingan bagaikan duel pada masa lalu, sebuah pertarungan hingga mati. Ketika orang Inggris berperang, dia akan pulang dengan kemenangan atau menjadi mayat". Inilah yang menjadikan karakter sepakbola Inggris merujuk pada gaya kick and rush.

        Gerrard adalah personifikasi tepat untuk idealisme publik Inggris. Ia adalah pejuang dengan semangat tinggi. Sikapnya selalu menjadi pelecut semangat bagi rekan setimnya. Tak heran jika sampai kapan pun Gerrard akan senantiasa memesona bagi publik inggris. secara pribadi saya bukan penggemar Liverpool tetapi saya salut dan respek kepada sosok Gerrard yg sukses menunjukkan totalitas sebagai seorang pemimpin di dalam dan di luar lapangan. Mungkin kado terbaik buat sang kapten fantastis di musim ini adalah juara EPL. Will See, masih ada beberapa laga sisa. Go Ahead Fighter.

Monday, March 17, 2014



 "JOKOWI JADI PRESIDEN, LAYAKKAH?"

Muhammad Fadhly Thahir

Akhirnya Joko Widodo yang lebih dikenal dengan JOKOWI resmi menjadi calon presiden dari partai PDIP. Sebenarnya pencalonan ini bukan lagi isu baru di tanah air. Di penghujung 2013 dan awal tahun baru 2014, nama Jokowi sudah santer diberitakan bakal menjadi calon presiden usungan partai Pimpinan Megawati Soekaro Putri ini. Majunya Jokowi ke panggung perebutan kursi nomor 1 RI tak pelak menimbulkan beragam spekulasi mengenai topeng politik yang tengah disusun oleh Partai Banteng Merah ini. Hal ini bisa menjadi sebuah praksis ideologis bagi pengamat politik tanah air dan masyarakat selaku pemilik demokrasi. Bukan karena sosok seorang Jokowi yang begitu populer sejak naik daun akibat mobil Esemka. Namun lebih kepada penilaian layakkah ia menjadi seorang presiden.
Jokowi, yang dikenal luas masyarakat Indonesia sejak momen peluncuran mobil Esemka adalah seorang figure baru di panggung perpolitikan nasional. Puncaknya saat ia kemudian berhasil meraih pucuk pimpinan di DKI 1. Lewat metode blusukan yang ia ambil praktis membuat citranya melambung tinggi. Dari segi ini satu nilai positif patut untuk diberi apresiasi. Bahwasanya ia telah berhasil menerapkan sebuah metode yang didalam istilah kerennya lebih dikenal dengan istilah merakyat. Memang sejatinya para calon pemimpin sepantasnya melakukan hal yang sama dengan Jokowi. Lebih intens untuk dekat dengan masyarakat, berbaur dengan semua lapisan masyarakat utamanya menengah ke bawah. Namun memang yang banyak kemudian terjadi adalah calon-calon pemimpin atau calon anggota legislatif hanya ingin enaknya saja. Mengambil jalan isntan dengan tak mau mengambil banyak resiko dan perasan keringat.
Figuritas Jokowi yang melonjak drastis tak terlepas dari peran media massa dalam memainkan perannya. Segala hal dari sisi positif Jokowi digembar gemborkan hingga terlalu sering melebihi fakta yang ada. Media TV, Radio, cetak hingga dunia maya nyaris tak pernah alpa menyajikan kharismatik, kesederhanaan dan keahlian Jokowi dalam aspek kepribadian dan kepemimpinan. Beberapa bulan terakhir boleh dikatakan persentase pemberitaan tentang Jokowi  seakan menjadi panggung akrobatik yang dinikmati ratusan juta pasang mata di seantero negeri. Hingga pada akhirnya kesemuanya melahirkan aksioma dalam realitas masyarakat. Jokowi digelari Ratu Adil, Manusia Setengah Dewa dan berbagai macam gelar yang kesemuanya merujuk pada pengaguman berlebihan terhadap sosok Jokowi. Astaghfirullah, sudah sebaik itukah Jokowi hingga gelar yang diberikan padanya telah menyaingi bahkan mengalahkan gelar para Nabi. Dari sini kita kemudian bisa membuka ruang diskursus nalar kepada khalayak bahwasanya sudah sejauh mana kapsitas keilmuan gubernur DKI itu dalam memimpin ibukota dalam kaitannya dengan realita di lapangan.
Masih segar dalam ingatan kita bagaimana berbagai program kerja yang dicanangkan Jokowi saat menjadi calon gubernur pada kenyataanya tak terealisasi atau mandek di tengah jalan. Program Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang dicanangkan untuk masyarakat kurang mampu di DKI yang sejatinya menjadi sebuah program unggulan ternyata banyak menemui kendala. Saat beberapa rumah sakit yang diajak bekerjasama mundur karena merugi, pemberian jatah kepada yang tidak berhak, program yang ditengarai tumpang tindih dengan JKN, hingga pada akhirnya DPR akan mengajukan rencana interpelasi terkait program KJS ini. Selain itu, proyek monorail yang dicanangkan Jokowi sepertinya akan sangat sulit untuk teralisasi. Pemegang hak tender proyek, PT Jakarta Monorail (JM) mengalami hambatan pada sisi tata ruang kota yang mengakibatkan plan area yang sudah disusun tak sesuai dengan realita kota di lapangan. Hal ini mengakibatkan jokowi seakan mulai meninggalkan visinya itu dan mengalihkan ke alat angkut penumpang lain yang lebih mudah dibanding monorel yakni Metro Kapsul. Sekarang, proyek monorail menunggu nasib antara langit dan bumi.
Proyek bus transjakarta yang juga dicanangkan Jokowi pada akhirnya mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan proyek monorail. Dengan dana yang cukup fantastis untuk mendatangkan ratusan unit bus gandeng dari Cina itu diawal kedatangannya sudah menemui banyak keganjalan. Mesin yang karatan, kaca spion hilang, pintu rusak, perangkat dalam yang rusak hingga ada yang terbakar di tengah jalan. Kesemuanya semakin memberatkan indikasi bahwasanya memang bus–bus yang didatangkan bukanlah baru alias bekas. Indikasi ini juga semakin menguatkan dugaan penyelewengan dana milyaran rupiah dari proyek  yang menurut laporan terakhir dari Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) bekerjasama dengan KPK menduga adanya penggelembungan dana lebih dari 53 miliar rupiah. Sungguh miris jadinya jika kita menilik satu persatu program kerja dari Jokowi selaku Gubernur DKI Jakarta.
Sampai disini kita sudah bisa memahami sedikit banyak bagaimana sebenarnya pencapaian dari seorang Gubernur DKI dalam melakukan kerja-kerja selaku pemimpin. Sangat sering kita menelaah kata-kata yang terlontar darinya saat ditanyai oleh wartawan yang mengindikasikan bahwa hingga pada titik ini Jokowi sudah cukup pusing dengan pergolakan realitas yang ada. Bagaimana jika ia menjadi presiden? Ini baru Jakarta belum Indonesia yang lebih luas dan kompleks permasalahannya. Berangkat dari realita yang ada, hal ini pula menyebabkan para buruh saat berdemonstrasi tentang upah minimum kerja menyebut Jokowi bukan gubernur mereka tetapi gubernur monyet. Hal ini bukanlah sekedar ungkapan kekesalan saja tapi karena memang disaat banyak masalah yang menghimpit ibukota, Jokowi malah lebih asyik memberi perhatian lebih kepada monyet yang ada di Kebun Binatang Ragunan dibanding memerhatikan tuntutan warganya dan Ibukota. Tak heran jika kemudian banyak pengamat dari beragam kalangan juga menilai bahwa kapasitas keilmuan Jokowi belum mampu untuk mengurus kompleksitas kebangsaan. bukan hanya itu, bahkan level gubernur ibukota saja memang sudah dipertanyakan. Hal ini terbukti dari ketidakmampuan ia dalam menghadapi dan mengambil langkah strategis menghadapi gelombang polemik Ibukota. Mungkin memang selama ini ia hanya menang citra layaknya SBY. Miris.
Seabrek permasalahan ibukota tak menjadi penghalang bagi Jokowi untuk maju sebagai calon presiden pada  bursa capres tahun ini. Boleh dikatakan ini adalah sebuah lelucon terhadap realita dan juga sebagai sebuah intrik politik. Bukanlah sebuah pernyataan semata jika ini adalah lelucon. Lihatlah berabgai permasalahan ibukota saat ini yang hingga detik ini belum juga bisa diatasi dan ditemukan ramuan mujarabnya. Banjir, macet, pemukiman kumuh, urban, infrastukur jalan, sarana public, dan masih banyak lainnya adalah deretan perkara tak biasa yang seharusnya menjadi objek pemikiran bagi seorang pemimpin. Lari dari kenyataan dengan mencari peruntungan baru. Selanjutnya, mengapa ini disebut intrik politik? Melihat dari data rerakhir yang dikeluarkan KPK tentang tingkat korupsi partai politik maka bisa kita ketahui bahwa PDIP menjadi juara wahid dalam urusan ini. Untuk mengaburkan pandangan masyarakat yang jika dibiarkan bisa merusak citra partai maka diusunglah seorang jokowi yang lagi tren di masyarakat guna menyelamatkan topeng partai. Cerdik. Harapannya bahwa dengan popularitas Jokowi sebagai pemimpin yang ramah, sederhana dan mumpuni mampu menjadikan masyarakat lupa akan berbagai prestasi gagalnya dalam memimpin ibukota dan mereduksi opini masyarakat terkait rekor korupsi yang dilakukan elit partai di berbagai daerah hingga pusat.
Momentum politik tahun ini adalah sebuah pertarungan ideologi yang sangat berat. Salah dalam mengambil keputusan berakibat fatal lima tahun kedepan. Periode kali ini adalah periode tahun emas bagi Indonesia untuk menapak lebih maju dari sebelumnya. Dekade inilah harapannya Indonesia bertumbuh menjadi negara yang punya pengaruh besar dan bisa kembali disegani. Bila kemudian momentum politik kali ini tidak menjadi representasi massif bagi rakyat Indonesia maka alamat buruk bagi dunia perpolitikan tanah air. Jikalau kekuatan materi mengalahkan demokrasi bisa dipastikan berefek bagi konstalasi negeri di semua sendi kehidupan. Kini bukan lagi eranya citra menjadi pedang pembelaan diri. Namun yang terpenting adalah menunjukkan dedikasi dan kerja nyata. Jadilah pemilih cerdas yang memilih bukan karena figuritas semata akan tetapi karena kerja nyata dan kontribusi terhadap negeri dan khalayak selama ini. Memilih bukan karena uang sudah di tangan tapi memilih karena penalaran dan analisa yang menyeluruh dan tak timpang. Jika tetap idealis tak ingin memilih ada baiknya coba untuk merenungkan kenyataan partai politik. Apakah mereka dihuni oleh para malaikat atau manusia. Dikarenakan mereka adalah manusia yang mengurus seuatu pastinya mereka tak lepas dari salah dan khilaf. Namun yang terpenting adalah cobalah untuk tidak terbuai oleh pemberitaan negatif media terhadap partai politik tapi fokuslah pada penggalian informasi dari berbagai sumber terhadap sebuah partai politik dan kinerja kader-kadernya di panggung realitas. Kita harus percaya bahwa masih ada partai yang betul-betul punya niatan tulus dan visi serta misi cemerlang untuk Indonesia.

Saturday, March 15, 2014



 "POLARITAS KONSEP DAN AKSI"

Muhammad Fadhly Thahir

Terkadang dalam dunia realitas yang kita alami senantiasa menghadirkan dua buah antitesa dalam penerapan kerja-kerja. Konsep dan Aksi. Dua sisi urgensial dalam setiap penerapan kerja-kerja organisasi dan keseharian ini terkadang menjadi sebuah ruang dilematis bagi sebagian orang. Ada yang kemudian beranggapan bahwa tak perlu banyak berteori kita langsung action saja. Mungkin saja terinspirasi dari iklan yang cukup terkenal Talk Less Do More. Ada pula yang beranggapan bahwa kita perlu berteori banyak baru kemudian beraksi. Alasannya supaya lebih mantap. Sebenarnya berbagai macam opini yang berkembang masing-masing punya landasan dan keragaman alasan. Namun ada baiknya kita bersama-sama mengkaji lebih jauh kaitan antara keduanya sehingga menjadi sebuah ruang intelektual yang mendidik.
Konsep, yang lebih sering kita kenal sebagai kajian teori adalah sebuah perangkat yang penting dalam penyusunan sebuah rancangan (plan) kerja pribadi maupun organisasi. Mungkin ada baiknya kita sama-sama menjadikan kajian teori ini sebagai sebuah analogi bahan mentah dalam ruang imajinasi. Bahan mentah yang kemudian diolah menjadi barang jadi. Sebelum menjadi barang jadi pastinya bahan mentah itu membutuhkan pengolahan yang terstruktur sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang sesuai harapan kita. Mengapa kemudian teori ini penting,,itu dikarenakan sebelum melaksanakan sesuatunya terlebih dahulu kita harus tahu dan memahami betul apa yang akan kita lakukan. Olehnya itu perlu sebuah perencanaan dan pengkajian yang baik sebelum mengeksekusi sesuatu hal.
Jika kita ingin mengibaratkan teori ini sebagai amunisi. Amunisi yang akan kita gunakan untuk terjun ke medan perang. Tentunya sebelum terjun ke medan perang setiap kita perlu untuk mengisi amunisi dan perbekalan secukupnya. Tentunya pula kita tidak ingin mati konyol di medan laga. Mati konyol dalam artian sebenarnya kita tahu dan kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya untuk menang namun kita tidak melakukannya dengan penuh gengsi dan percaya diri tak pasti. Itulah sebabnya mengapa kita senantiasa dituntut untuk mematangkan konsep dulu baru kemudian beraksi. Dikarenakan aksi tanpa konsep yang matang sama artinya dengan bullshit. Tanpa landasan yang kuat dan strategi yang baik yakinlah aksi kita tak memiliki ruh serta intuisi yang komprehensif.
Aksi, yang lebih sering kita kenal sebagai kerja nyata dalam dunia realitas sesungguhnya menjadi nafas dari setiap pembahasan konsep yang kita lakukan. Dikarenakan konsep tanpa aksi sama halnya dengan nonsense. Bahan jadi yang tadinya diolah dari bahan mentah sudah selayaknya untuk segera disebar ke berbagai penjuru untuk memberi mamfaat kepada khalayak. Lucu dan sayang jadinya jika sesuatu yang sudah matang namun tidak segera dieksekusi sehingga bernilai lebih. Aksi pulalah yang membedakan output dari sebuah proses. Hasil nyata dari penggodokan teori yang selama ini kita lakukan adalah hal yang sangat berpengaruh terhadap kesuksesan rencana-rencana yang telah kita susun sebelumnya.
Untuknya itu yang penting untuk kita pahami bahwa kita seharusnya menyeimbangkan antara teori dalam tataran konsep dengan aksi. Hal ini dimaksudkan agar kiranya tak ada yang timpang dalam setiap kerja-kerja yang kita lakukan. Bagi seorang mahasiwa dan organisasi kemahasiswaan penting kiranya untuk mengkaji terlebih dahulu sebuah isu secara mendalam baru kemudian turun ke jalan menyuarakan aspirasi. Ini penting supaya kejadian memalukan mahasiswa yang diinterogasi oleh wartawan tentang alasan mengapa turun aksi yang kemudian dijawab  tidak tahu ataukah jawabannya ngawur tidak terulang kembali. Sangat memalukan jika sampai kejadian itu berulang kembali. Merusak citra mahasiswa sebagai kaum intelektual. Olehnya itu jangan turun aksi jikalau belum paham betul apa sebenarnya esensi dari apa yang tengah kita perjuangkan. Hal ini penting juga bagi sebuah instansi atau perusahaan dalam menentukan plan. Ini dimaksudkan agar supaya dikemudian hari hal-hal yang bisa menggagalkan master plan perusahaan bisa dieliminir dan dicegah sehingga menghasilkan benefit bagi perusahaan. Bagi pemerintah penting kiranya untuk mematangkan konsep dan analisa sebelum mengeluarkan sebuah kebijakan. Alamat tak baik jika sebuah kebijkan diambil tanpa memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat. Alih-alih ingin memperbaiki justru semakin merusak dan memperburuk keadaan.
Harapnya bahwa setiap agenda yang kita lakukan baik itu individu ataupun organisasi penting kiranya tuk menyelaraskan antara konsep dan aksi. Harus ada polaritas yang baik diantara keduanya sehingga hasil yang kita harapkan bersama bisa terwujud. Tentunya kita tak ingin apa yang sudah kita rencanakan ternyata tak sesuai dengan realitas yang kita hadapi. Terakhir yang terpenting adalah berupaya untuk senantiasa menjadi pribadi yang peka melihat realita sehingga setiap sisi dalam tataran konsep mampu kita jelajahi dan dalami sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan saat aksi meski sebuah kejadian diluar perkiraan menghantui sepanjang jalan.